Post Top Ad

Jumat, 17 Mei 2019

bahasa indonesia minat bab 4

FRASA

Sebuah kalimat tersusun atas beberapa satuan. Satuan itu tersusun dari satu kata atau lebih. Dan satuan pembentuk kalimat tersebut menempati fungsi tertentu.
Fungsi tersebut yaitu Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), Pelengkap (Pel.), dan Keterangan (Ket.)
Fungsi diatas boleh ada atau tidak dalam sebuah kalimat. Tetapi ada fungsi yang wajib ada yaitu Subjek (S) dan Predikat (P).
Nah fungsi di dalam kalimat bisa tersusun atas katafrasa, maupun klausa.
Nah mungkin masih banyak dari kamu yang sulit memahami pengertian frasa dan jenis frasa. Tetapi tenang saja karena frasa mempunyai ciri-ciri sehingga bisa memudahkan untuk memahaminya.

Pengertian Frasa

Frasa adalah satuan yang terdiri dari dua kata atau lebih yang menduduki satu fungsi kalimat. Frasa tidak bisa membentuk kalimat sempurna karena tidak mempunyai predikat.
Contoh frasa: Tiga orang mahasiswa baru itu sedang membaca buku di perpustakaan.
Perhatikan penjelasan fungsi kalimat di atas:
  • Tiga orang mahasiswa (S)
  • sedang membaca (P)
  • di perpustakaan (Ket. tempat).
Kalimat di atas terdiri atas tiga frasa, yaitu ‘tiga orang mahasiswa’, ‘sedang membaca’, dan ‘di perpustakaan’.

Ciri-Ciri Frasa

Untuk lebih memahami materi frasa ini, kamu harus mengerti ciri-ciri frasa berikut ini yang Yuksinau.id dapat, yaitu:
  • Frasa harus terdiri minimal dua kata atau lebih
  • Menduduki atau mempunyai fungsi gramatikal dalam kalimat
  • Frasa harus mempunyai satu makna gramatikal
  • Frasa bersifat nonpredikatif
  • Frasa selalu menduduki satu fungsi kalimat

Kategori Frasa

1. Frasa Setara dan Frasa Bertingkat
Suatu frasa disebut setara jika unsur penyusun nya mempunyai kedudukan yang sama atau setara.

Contoh: Saya dan adik makan-makan dan minum-minum di taman depan.
Frasa “saya dan adik” merupakan frasa sama, karena antara unsur “saya” dan unsur “adik” memiliki kedudukan yang setara atau tidak saling menjelaskan.
Demikian juga frasa “makan-makan” dan “minum-minum” termasuk frasa setara.
Frasa setara ditandai oleh adanya kata ‘dan‘ / ‘atau‘ di antara kedua unsur nya.
Selain frasa setara, ada pula frasa bertingkat. Frasa bertingkat merupakan frasa yang terdiri atas inti dan atribut.
Contoh: Kakak akan pergi nanti malam.
Frasa “nanti malam” terdiri atas unsur atribut dan inti.
2. Frasa Idiomatik
Perhatikan 2 kalimat dibawah ini:

(a) Dalam peristiwa kebakaran kemarin, seorang penjaga toko menjadi kambing hitam.
(b) Untuk menyelamati saudaranya, keluarga Pinto menyembelih seekor kambing hitam.
Kalimat (a) dan (b) menggunakan frasa yang sama, yaitu frasa ‘kambing hitam‘.
Pada kalimat (a) kambing hitam bermakna orang yang dipersalahkan dalam suatu kejadian, sedangkan dalam kalimat (b) bermakna seekor kambing yang mempunyai warna bulu hitam.
Makna kambing hitam di kalimat (a) tidak ada hubungannya dengan makna kata kambing dan hitam.
Nah frasa yang maknanya tidak bisa dijelaskan berdasarkan makna kata yang membentuknya dinamakan frasa Idiomatik.

Konstruksi Frasa

Frasa mempunyai 2 konstruksi, yaitu konstruksi endosentrik dan eksosentrik.
Perhatikan kalimat berikut: Kedua saudagar itu telah mengadakan jual beli.
1. Frasa Eksosentrik
Kalimat tersebut terdiri dari frasa ‘kedua saudagar itu’, ‘telah mengadakan’ dan ‘jual beli’. Menurut distribusi nya frasa ‘kedua saudagar itu’ dan ‘telah mengadakan’ adalah frasa endosentrik. Sedangkan frasa ‘jual beli’ adalah frasa eksosentrik.

Frasa kedua saudagar itu bisa diwakili kata saudagar. Frasa telah mengadakan juga bisa diwakili kata mengadakan.
Tetapi frasa jual beli tidak bisa diwakili oleh kata jual maupun beli, Karena kedua kata tersebut merupakan inti, sehingga mempunyai kedudukan yang sama.
Frasa yang distribusinya tidak sama dengan salah satu atau semua unsurnya disebut frasa eksosentrik.
2. Frasa Endosentrik
Meliputi 3 jenis yaitu:

  • Frasa Endosentrik yang Koordinatif: dihubungkan dengan kata “dan” dan “atau”. Contoh: Pintu dan jendela sedang dicat.
  • Frasa Endosentrik yang Atributif: tersusun dari unsur-unsur yang tidak setara. Contoh: Pekarangan luas yang akan didirikan bangunan itu milik Haji Manarul.
  • Frasa Endosentrik yang Apositif: secara semantik, unsur yang satu pada frasa endosentrik apositif mempunyai makna sama dengan unsur yang lain. Unsur yang dipentingkan merupakan unsur pusat, sedangkan unsur keterangan merupakan aposisi. Contoh: Arum, putri Pak Ruchan, berhasil menjadi pelajar teladan.

Kelas Frasa

Frasa terbagi jenisnya menjadi 6 kelas kata. Meliputi frasa benda, kerja, sifat, keterangan, bilangan, dan depan.
1. Frasa Benda atau Frasa Nomina
Frasa yang distribusinya sama dengan kata benda. Unsur pusat frasa benda, yaitu kata benda.

Contoh:
  • Bara menerima hadiah ulang tahun.
  • Bara menerima hadiah.
Alasannya karena frasa hadiah ulang tahu di kalimat distribusi sama dengan kata benda hadiah.
2. Frasa Kerja atau Frasa Verba
Frasa yang distribusinya sama dengan kata kerja atau verba.

Contoh: Arum sejak tadi akan menulis dengan pensil baru.
Disebabkan karena frasa akan menulis adalah kata kerja dan distribusinya sama dengan kata kerja menulis.

3. Frasa Sifat atau Frasa Adjektiva
Frasa yang distribusinya sama dengan kata sifat. Memiliki inti berupa kata sifat. Kesamaan distribusi tersebut bisa dilihat dari contoh frasa berikut.

Contoh:
  • Lukisan yang dipamerkan itu memang bagus-bagus.
  • Lukisan yang dipamerkan itu-bagus-bagus.
4. Frasa Keterangan atau Frasa Adverbia
Frasa yang distribusinya sama dengan kata keterangan. Umumnya inti frasa keterangan juga berupa kata keterangan dan dalam kalimat sering menduduki fungsi sebagai keterangan.

– Frasa keterangan sebagai keterangan
Frasa keterangan umumnya mempunyai keleluasan berpindah karena berfungsi sebagai keterangan. Sebab itu frasa keterangan bisa terletak di depan atau belakang subjek.

Contoh:
  • Tidak biasanya dia pulang larut malam
  • Dia tidak biasanya pulang larut malam
  • Dia pulang larut malam tidak biasanya
– Frasa keterangan sebagai keterangan pada kata kerja
Contoh: Saya tidak hanya bertanya, tetapi juga mengusulkan sesuatu
5. Frasa Bilangan atau Frasa Numeralia
Frasa yang distribusinya sama dengan kata bilangan. Biasanya frasa bilangan atau frasa numeralia dibentuk dengan menambahkan kata penggolong atau kata bantu bilangan.

Contoh: Tiga orang serdadu menghampirinya ke tempat itu.
6. Frasa Depan atau Frasa Preposisional
Frasa yang terdiri atas kata depan dengan kata lain sebagai unsur penjelas.

Contoh: Laki-laki di depan itu mengajukan pertanyaan kepada pembicara.
Frasa Yang Bersifat Ambigu
Ambiguitas kadang ditemukan dalam susunan frasa. Ambiguitas berarti kegandaan makna.

Contoh: Kambing hitam dan mobil tetangga baru.
Frasa kambing hitam bisa memiliki 2 makna yaitu kambing yang berbulu.
Frasa kambing hitam bisa memiliki 2 makna yaitu kambing yang berbulu hitam dan suatu ungkapan yang berarti orang yang dipersalahkan.
Frasa mobil tetangga baru juga bisa mempunyai 2 makna, yaitu yang baru adalah mobil dan yang baru adalah tetangganya (bukan mobilnya.
Frasa ambigu akan menjadi jelas ketika digunakan dalam kalimat.
Mei 17, 2019 / by / 0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad